Esalita, Maya Andilla (2025) Pemaknaan Tradisi Jujuran dalam Perkawinan pada Masyarakat Banjar di Kelurahan Kandangan Kota, Kabupaten Hulu Sungai Selatan Dalam Perspektif Hukum Islam. Undergraduate Thesis thesis, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
|
Text
1121061_Cover_Bab I dan Bab V.pdf Download (553kB) |
|
|
Text
1121061_Full Text.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text
20 LAMPIRAN(3).pdf Restricted to Repository staff only Download (226kB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih lestarinya tradisi Jujuran dalam perkawinan masyarakat Suku Banjar di Kelurahan Kandangan Kota, yang memiliki peran penting sebagai simbol penghormatan dan kesungguhan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Namun, dalam praktiknya, tradisi ini kerap menimbulkan persoalan sosial dan keagamaan karena sering disamakan dengan mahar dalam hukum Islam, padahal keduanya berbeda baik dari segi hak maupun makna. Penentuan jumlah Jujuran yang tinggi juga menimbulkan beban ekonomi bagi pihak laki-laki, bahkan dapat menyebabkan batalnya pernikahan. Kondisi ini menunjukkan adanya ketegangan antara norma adat dan prinsip syariat Islam, serta perbedaan pemahaman di kalangan masyarakat mengenai makna dan kedudukan Jujuran. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan masyarakat Banjar terhadap tradisi Jujuran dalam perkawinan, menilai kesesuaiannya dengan prinsip hukum Islam, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlangsungannya dalam kehidupan sosial masyarakat Banjar. Penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum empiris, yaitu penelitian yang memandang hukum sebagai gejala sosial yang hidup di tengah masyarakat, dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif antropologi budaya. Data diperoleh melalui wawancara, kuesioner, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat Banjar yang melaksanakan tradisi Jujuran di Kelurahan Kandangan Kota. Subjek utama penelitian meliputi H. Ahmad Fadli Rahman, S.Ag. sebagai tokoh adat, H. Suriyadi sebagai tokoh agama, dan beberapa pasangan suami istri masyarakat Banjar sebagai pelaku tradisi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan mengacu pada teori budaya Clifford Geertz dan Koentjaraningrat, serta teori Urf dalam hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, tradisi Jujuran dimaknai oleh masyarakat Banjar sebagai simbol kesungguhan, tanggung jawab, dan penghormatan dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Tradisi ini juga berfungsi mempererat hubungan kekeluargaan serta mencerminkan nilai moral dan sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Banjar. Kedua, dalam tinjauan hukum Islam, tradisi Jujuran termasuk dalam kategori ‘Urf ṣaḥīḥ (adat yang dibenarkan) karena tidak bertentangan dengan prinsip syariat selama tidak memberatkan salah satu pihak. Namun, praktik Jujuran dengan nominal berlebihan dipandang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan kesederhanaan dalam mahar.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate Thesis) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Supervisor: |
|
||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Tradisi Jujuran, Makna Budaya, Mahar, Hukum Islam | ||||||||
| Subjects: | 200 RELIGION (AGAMA) > 2X0 ISLAM UMUM > 2X4 Fikih, Fiqih, Fiqh, Hukum Islam 300 SOCIAL SCIENCE ( ILMU SOSIAL ) > 340 Law (Ilmu Hukum) > 346.01 Domestic Relations, Family Law, Marriage/Hukum Keluarga, Hukum Pernikahan |
||||||||
| Divisions: | Fakultas Syariah > Prodi Hukum Keluarga Islam | ||||||||
| Depositing User: | UIN Gus Dur Fasya | ||||||||
| Date Deposited: | 17 Nov 2025 06:38 | ||||||||
| Last Modified: | 06 May 2026 07:10 | ||||||||
| URI: | http://etheses.uingusdur.ac.id/id/eprint/16601 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
