Yaum Naḥs Dalam Tafsir Fatḥ Al-Qadīr Dan Kontekstualisasinya Pada Masyarakat Muslim Kontemporer

Munawaroh, Diniyatul (2026) Yaum Naḥs Dalam Tafsir Fatḥ Al-Qadīr Dan Kontekstualisasinya Pada Masyarakat Muslim Kontemporer. Undergraduate Thesis thesis, UIN K.H. Abdurahman Wahid Pekalongan.

[img] Text
30122036_Cover, Bab I dan Bab V.pdf

Download (7MB)
[img] Text
30122036_Full Text.pdf
Restricted to Registered users only

Download (11MB)
Official URL: http://perpustakaan.uingudur.ac.id/

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih berkembangnya kepercayaan sebagian masyarakat Muslim terhadap adanya hari-hari tertentu yang dianggap membawa kesialan (nahas), seperti tradisi Rebo Wekasan dan anggapan sial pada bulan Muharram maupun Syawal. Padahal Al-Qur'an sendiri menyebut istilah yaum nahs dalam QS. Al-Qamar [54]: 19 dan QS. Fushshilat [41]: 16 dalam konteks azab yang menimpa kaum 'Ad, bukan sebagai penetapan adanya hari yang secara umum membawa kesialan bagi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Imam Asy-Syaukani mengenai makna yaum nahs dalam Tafsir Fatḥ al-Qadīr serta kontekstualisasinya bagi kehidupan masyarakat Muslim kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), menggunakan pendekatan sosio-historis dan linguistik. Data primer diperoleh dari Tafsir Fatḥ al-Qadīr karya Imam Asy-Syaukani, khususnya pada ayat-ayat yang berkaitan dengan yaum nahs dan tathayyur, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku, jurnal, dan skripsi terkait. Analisis data dilakukan dengan menelaah makna ayat, konteks historis (asbāb al-nuzūl), fenomena kontemporer, serta mengaitkannya dengan teori kontekstual Abdullah Saeed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Asy-Syaukani memaknai yaumin naḥsin mustamir dan ayyāmin naḥisāt sebagai hari-hari terjadinya azab Allah berupa angin yang sangat dingin dan kencang terhadap kaum 'Ad selama tujuh malam delapan hari, bukan sebagai penetapan adanya hari yang secara hakikat bersifat sial. Sebagian riwayat yang dikutip menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu di akhir bulan Syawal, namun penyebutan waktu tersebut hanya berfungsi sebagai keterangan historis, bukan dasar keyakinan tathayyur. Secara kontekstual, konsep yaum nahs mengalami pergeseran makna dari penetapan Allah atas waktu turunnya azab pada masa kaum 'Ad, menjadi keyakinan thiyarah pada masa jahiliah, hingga bertransformasi menjadi tradisi lokal maupun kepercayaan global (seperti Rebo Wekasan dan Friday the 13th) pada masyarakat kontemporer. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Al-Qur'an menolak keyakinan terhadap hari sial dan mengarahkan umat Islam pada prinsip tauhid, bahwa segala musibah maupun keberuntungan sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah Swt. serta intropeksi diri terhadap perbuatan manusia itu sendiri.

Item Type: Thesis (Undergraduate Thesis)
Supervisor:
ContributionSupervisorNIDN/NIDKEmail
Thesis advisorKurdi, KurdiUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Hari Nahas, Tafsir Fatḥ al-Qadīr, Imam Asy-Syaukani, Kontekstualisasi
Subjects: 200 RELIGION (AGAMA) > 2X0 ISLAM UMUM > 2X1.3 Tafsir Al-Qur'an
Divisions: Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Prodi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir
Depositing User: UIN Gus Dur FUAD
Date Deposited: 20 Jul 2026 02:35
Last Modified: 20 Jul 2026 02:35
URI: http://etheses.uingusdur.ac.id/id/eprint/19378

Actions (login required)

View Item View Item