MAKNA RELASIONAL KATA ḤUBUK DALAM AL-QUR’AN (STUDI KOMPARATIF PEMAKNAAN DALAM TAFSIR AL-THABARĪ DAN AL-TAHRĪR WA AL-TANWĪR)

Khair, Fatimah Arifatul (2026) MAKNA RELASIONAL KATA ḤUBUK DALAM AL-QUR’AN (STUDI KOMPARATIF PEMAKNAAN DALAM TAFSIR AL-THABARĪ DAN AL-TAHRĪR WA AL-TANWĪR). Undergraduate Thesis thesis, UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

[img] Text
30122039_ BAB I DAN V.pdf

Download (1MB)
[img] Text
30122039_ Full Text.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
Official URL: http://perpustakaan.uingusdur.ac.id/

Abstract

Khair, Fatimah Arifatul, 2026. Makna Relasional Kata Ḥubuk (Studi Komparatif Pemaknaan Dalam Tafsīr Al-Thabarī dan Al-Tahrīr Wa Al-Tanwīr). Skripsi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsīr Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Pembimbing: H. Misbakhudin, Lc., M.Ag Kata Kunci: Ḥubuk, Makna Relasional, Al-Thabarī, dan Ibnu ‘Āsyūr. Dalam Al-Qur’an, kata ḥubuk disebutkan hanya satu kali dalam Surah Adz-Dzatiyat ayat 7 yang mana diartikan dengan jalan-jalan. Dilihat dari artinya, kata ḥubuk menunjukkan bentuk jamak dan juga memiliki kesamaan arti dengan kata thoriq dan sabil. Namun, beberapa ulama menafsirkan kata tersebut dengan Tafsīran indah, rapi, tenunan, bintang-bintang, dan sebagainya. Konteks ayat tersebut memang berkaitan dengan kosmologi. Namun, penulis ingin menelaah kata ḥubuk dari segi makna relasional yang juga dilihat dari perspektif kitab Tafsīr klasik yakni Tafsīr Jami' Al-Bayan 'an Takwil ayy Al-Qur'an karya Al-Thabarī dan kitab Tafsīr modern yakni At-Tahrir wa At-Tanwir karya Ibnu 'Asyur. Adanya ragam makna pada kata ḥubuk salah satunya juga dari faktor latar belakang keilmuwan mufasir yang menafsirkannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergeseran penafsiran kata ḥubuk jika dilihat dari makna relasionalnya serta mengetahui persamaan dan perbedaan penafsiran zaman klasik dan modern kontemporer. Adapun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Sumber primer yang penulis gunakan adalah dari Kitab Tafsīr Jami' Al-bayan 'an Takwil ayy Al-Qur'an dan Tafsīr At-Tahrir wa At-Tanwir. Teknik pengumpulan datanya dengan teknik dokumentasi, yakni mengulas kembali data-data yang sudah tersedia, dan teknik analisis datanya dengan cara menyebutkan secara mentah penafsiran kedua mufasir lalu menganalisisnya menggunakan teori konteks (siyaq) dan Tafsīr muqaran dengan memaparkan persamaan dan perbandingan penafsiran dari kitab Tafsīr karya Al-Thabarī dan Ibnu 'Asyur. Hasil penelitian, yakni Al-Thabarī, menyebutkan makna relasional dari kata ḥubuk yakni berhubungan dengan Surah An-Naba’ ayat 12 dengan kata syidadan. Sedangkan Ibnu ‘Asyur menyebutkan dalam penafsirannya bahwa kata ḥubuk dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 7 berkaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Selain itu, persamaan penafsiran kedua mufasir yakni sama-sama memaknai kata ḥubuk dari asal kata ḥibak yang artinya anyaman. Al-Thabarī menyebutkan syair arab klasik dan Ibnu 'Asyur mengutip salah satu riwayat yang juga ada di dalam penafsiran Ath-Thabari. Namun, juga ada perbedaan penafsiran dari kedua mufasir yakni pada saat menafsirkan Al-Ṭabarī, banyak menyebutkan riwayat yang memaknai ḥubuk dengan ciptaan yang indah, hiasan bintang, dan sesuatu yang kokoh. Sedangkan Ibnu 'Asyur lebih melihat konteks ayatnya dengan menghubungkan (munasabah) dengan ayat sebelum dan setelahnya yang menjelaskan tentang adanya perbedaan pendapat (kericuhan) antara orang kafir Quraisy yang akhirnya beliau Tafsīrkan bahwa Adz-Dzariyat ayat 7 merupakan bentuk qosam (sumpah) untuk menjawab perbedaan pendapat orang kafir tersebut (ayat 8-9) dan sebagai sindiran (talwih). Adanya ketidakcocokan antara sumpah Allah yang indah, rapi, dan teratur dengan ucapan orang kafir Quraisy yang berantakan (kacau). Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa ḥubuk jika dilihat dari Tafsīr klasik seperti Al-Thabarī lebih dimaknai sebagai suatu hal yang tampak dengan kasat mata (bentuk bintang, keindahan, kerapian, dan lainnya). Sedangkan jika dilihat dari cara pandang Tafsīr modern, dimaknai secara kontekstual dan melihat munasabah atau hubungannya dengan ayat selanjutnya. Dari sini sudah terlihat bahwa Tafsīr Al-Qur’an dari dulu sudah berkembang dan mengikuti zaman.

Item Type: Thesis (Undergraduate Thesis)
Supervisor:
ContributionSupervisorNIDN/NIDKEmail
Thesis advisorMisbakhudin, MisbakhudinUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Uncontrolled Keywords: Ḥubuk, Makna Relasional, Al-Thabarī, dan Ibnu ‘Āsyūr
Subjects: 200 RELIGION (AGAMA) > 2X0 ISLAM UMUM > 2X0.03 Kamus Agama Islam, Ensiklopedia Agama Islam
200 RELIGION (AGAMA) > 2X0 ISLAM UMUM > 2X1.3 Tafsir Al-Qur'an
200 RELIGION (AGAMA) > 2X0 ISLAM UMUM > 2X1.4 Kumpulan Ayat-ayat dan Surat-surat Tertentu dalam Al-Qur'an
200 RELIGION (AGAMA) > 2X0 ISLAM UMUM > 2X1.6 Kandungan Al-Qur'an
200 RELIGION (AGAMA) > 2X0 ISLAM UMUM > 2X1.31 Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Prodi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir
Depositing User: UIN Gus Dur FUAD
Date Deposited: 20 Jul 2026 02:03
Last Modified: 20 Jul 2026 02:03
URI: http://etheses.uingusdur.ac.id/id/eprint/19779

Actions (login required)

View Item View Item